Iya, aku tahu di kepala kalian langsung berseliweran ‘apaan
maksudnya alien?’ atau ‘apaan sih, sok nganggep diri alien’. Tapi aku serius.
Waktu aku bilang aku alien, aku emang bener-bener kayak alien. Soalnya,
semanusia-manusianya aku *hah?* menjalani hidup aku tidak berperilaku apapun yang mungkin
bersifat hewani *ups dan jelas tidak nabati, maupun malaikati:|
Lagian, kenapa pos pertama udah ngecap diri sebagai alien? Ibaratnya sama dunia matematika, pos ini tuh kayak operasi hitung, *tuh kan, ngomong bahasa alien* tanpa pos ini, kalian takkan mengerti isi pos-pos aku berikutnya. Tapi lagian kalian gak usah begitu amat. Disini kita enjoy-enjoy aja melihat catatan kebodohan dan kegilaanku sebagai alien yang hidup di dunia ini *katanya manusia? Hmph:(*
Selain itu, alasannya, sebenernya yang paling utama adalah karena ini pos terpenting aku dari segala pos yang mungkin bakal aku poskan nanti. Rasanya kurang sedap, gitu, kayak ada yang kurang mantap kalo nggak. *ehem*
Oke, the big question. Kenapa aku menamakan diri sebagai alien? Awalnya aku sendiri gak percaya (dan gak mau) juga disamain sama alien. Tapi mau gimana lagi, seiring waktu, keluar juga hal-hal alien-ish dari aku. Hal-hal itu banyak hal, tapi yang terutama adalah :
1.
- Jalan pikiran
- Jalan pikiran
Sebelumnya aku harus bilang, aku adalah
cewek *ooh*. Aku bisa dibilang lumayan tomboy (artinya aku setengah
tomboy-setengah feminim). Dan aku selalu percaya, mau setomboy-tomboynya
seorang cewek, pasti pada akhirnya keluar sifat kewanitaannya. Hal itu terbukti
mengingat aku punya temen cewek, diacewek tertomboy yang pernah aku temuin, dan
disaat aku kira dia bener-bener gak punya satu tetespun hormon estrogen &
progesteron mengalir di badannya, ternyata hormon endorphinnya meluap-luap
untuk seorang cowok. Walau begitu, anehnya, aku yang semi-tomboy ini gak pernah
seperti itu. Mau sefeminim-feminimnya aku bertingkah, pikiran aku masih aja
didominasi Top Gear, Sherlock Holmes, atau
hal-hal lain yang berbau sengat akan maskulinitas. Kalaupun seandainya ada yang
protes, aku cuek bebekin aja masuk telinga kanan keluar telinga kanan *yeah,
you know it*. Seumur-umur, aku hampir tak pernah menganggap keberadaan
perbedaan gender sampai sekarang (pengecualian saat haid pertama kali dan
rambut-rambut ‘aneh’ tumbuh)
2.
- - Karakter
- - Karakter
Jelas ini berhubungan sekali dengan jalan
pikiran, karena ini adalah ‘buah’nya. Selain tingginya maskulinitasku di atas
cewek tertomboy, aku juga hampir kayak psikopat. Aku kurang begitu suka harus
‘merasakan’ sesuatu. Tapi kalau itu sudah terlanjur, aku cuma bisa biarkan saja
tanpa aku pusingin. Aku juga kurang begitu mengerti kenapa, zaman sekarang
‘perasaan’ harus selalu dibawa-bawa kalau kita sedang melakukan sesuatu. Memang
itu harus berhubungan terus dengan kinerja kita? Itu tuh cuma sikap kita aja
yang manja dan ingin seenaknya sendiri. Beberapa hal di dunia ini gak bisa
berjalan sesuai keinginan kita, tahu. *ups, dunia mana?*
3.
- Tindakan.
- Tindakan.
Inilah turunan generasi berikutnya. Dari
sini, kelihatan sejelas siang menuju malam bahwa aku adalah alien. Didukung
penampilanku yang alien pula, setiap ada kumpul-kumpul temen sekolah dan
ngobrol-ngobrol, obrolanku sering gak nyambung dan off-topic. Aku hampir jarang keluar rumah, dan kalau aku dengan
santai nongkrong di depan rumah dan ngajak bicara anak tetangga yang masih
kecil, anak itu hanya memandangku dengan pandangan wah-alien-darimana-kok-kayak-di-kartun.
Ngeri ya, ngeliat cewek dengan personaliti macam itu? Keep calm and STAY calm. Spesifikasi
saya di hadapan ilmu biologi seenggaknya masih Homo sapiens, gak ada alienus
di belakangnya. Stay positive aja.
Saya selalu anggap sifat-sifat bawaan itu adalah pemberian terbaik yang telah
Tuhan berikan *tuh kan, saya aja punya Tuhan*. Gak ada hal yang 100% bagus atau
jelek, karena pasti selalu ada lawannya, mau betapa kecil persentasenya. *alien
bijak*